Tampilkan postingan dengan label TAUSHIAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAUSHIAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 November 2008

JADIKAN SABAR DAN SHOLAT SEBAGAI PENOLONGMU

Sobat rohimakumullah.
Didalam QS Al Baqarah [2] ayat 153 Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

MENGAPA SABAR DAN SHOLAT SEBAGAI PENOLONG?
Sobat.
Kata sabar lebih dari seratus kali disebut didalam Al Qur’an. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya makna sabar. Karena sabar merupakan poros, sekaligus inti dan asas segala macam kemuliaan akhlak. Jika kita telusuri lebih lanjut ternyata hakekat seluruh akhlak mulia, sabar selalu menjadi asas atau landasaannya. Misalnya :


• ‘Iffah (menjaga kesucian diri) adalah merupakan bentuk kesabaran dalam menahan diri dari memperturutkan syahwat.
• Syukur adalah bentuk kesabaran untuk tidak mengingkari nikmat dari Allah SWT.
• Qana’ah (merasa cukup dengan apa yang ada) adalah sabar dengan menahan diri dari angan-angan dan keserakahan.
• Hilm (lemah lembut) adalah kesabaran dalam mengendalikan amarah.
• Pemaaf adalah sabar untuk tidak membalas dendam.
• Demikian pula keutamaan akhlak lainnya, semuanya bersumbu pada kesabaran
Dengan kata lain secara psikologis kita bisa memaknai kesabaran sebagai suatu kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Jadi sabar adalah upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu untuk mencapai ridho Allah SWT.
Maka orang yang sabar adalah orang yang mampu menempatkan diri dan bersikap optimal dalam setiap keadaan. Sabar bukanlah sebuah bentuk keputus asaan tapi merupakan optimisme yang terukur. Ketika menghadapi situasi dimana kita harus marah misalnya maka marahlah secara bijak dan diniatkan untuk kebaikan bersama.

Sobat rohimakumullah.
Sedangkan sholat adalah ibadah yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan gerakan dan bacaan tertentu seperti yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Sholat adalah ibadah paripurna yang memadukan olah pikir, gerak, dan rasa. Ketiganya terpadu secara serasi dan selaras dan saling melengkapi. Dalam sholat terintegrasi proses latihan meletakkan kendali diri secara proporsional, mulai dari gerakan, inderawi, aql, dan pengelolaan nafsu yang pada akhirnya akan menghasilkan jiwa yang bersifat muthma’innah. Orang yang memiliki jiwa muthma’innah inilah yang pada akhirnya akan mampu mengaplikasikan nilai-nilai sholat dalam keseharian yaitu nilai-nilai yang didominasi kesabaran paripurna. Prakteknya tercermin dalam sikap penuh syukur, pemaaf, lemah lembut, penyayang, tawakal, qana’ah, menjaga kesucian diri, istiqomah dsb. Dengan kata lain, orang yang sholatnya baik dalam hidupnya akan dipenuhi sifat sabar yang tercermin dalam tingginya akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itulah maka Rasulullah, para sahabat, dan orang-orang shaleh menjadikan sholat sebagai istirahat, sarana pembelajaran, media pembangkit energi, sumber kekuatan dan pemandu untuk meraih kemenangan. Ketika mendapat rezeki melimpah, sholatlah ungkapan kesyukurannya. Ketika beban hidup makin berat, maka sholatlah yang meringankannya. Ketika rasa cemas membelenggu, sholatlah yang membebaskannya.
Maka tak heran bila khubaib bin Adi ketika akan menjalani eksekusi mati, dedengkot kafir quraisy memberi kesempatan untuk mengajukan permintaan terakhirnya. Apa yang dia minta? Ternyata yang diminta adalah kesempatan untuk sholat. Dengan kusyuk sholat dua rakaat ditunaikan. Selepas itu beliau berkata,”Andai saja aku tidak ingin dianggap takut dan mengulur-ulur waktu niscaya akan kuperpanjang lagi sholatku ini”.
Sobat. Rahimakumullah.
Memang sholat yang baik akan menghasilkan kemampuan bersabar. Sebaliknya kesabaran yang baik akan menghasilkan sholat yang berkualitas yaitu terjadinya dialog dengan Allah SWT sehingga melahirkan kenikmatan, ketenangan yang tak terhingga di hati. Barangsiapa yang mampu merasakan nikmatnya berdialog dengan Allah SWT didalam Sholat maka niscaya Allah SWT akan membuka lebar-lebar pintu pertolonganNya.
Sudahkan sholat kita demikian?
Oleh karena itu marilah kita berusaha menegakkan sholat dan mewarnai kehidupan kita penuh kesabaran agar pintu pertolongan senatiasa terbuka lebar untuk kita. Amin.
Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam bishowab.

Dheminto
http://untaianhikmah.blogspot.com
http://gizinews.blogspot.com

Selengkapnya...

Rabu, 29 Oktober 2008

KUNCI SURGA

Sobat rohimakumullah
Ketika ajal hampir menjemput Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW yang senantiasa melindungi beliau dari ancaman kaum kafir quraisy. Saat itu Nabi Muhammadpun bersimpuh disisinya seraya bersabda “Wahai paman, ucapkanlah La Ilaha Illallah, satu kalimat yang dapat engkau jadikan hujjah disisi Allah”.
Namun ketika mendengar ucapan Rasulullah, Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayah yang berada disisi Abu Thalib segera menyela, “Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak menyukai agama Abdul Muththolib?”.

Selanjutnya mereka berdua tak pernah berhenti mengucapkan kata-kata itu hingga akhirnya Abu Thalibpun meninggal dalam keadaan kafir sesuai hasutan mereka berdua. Rosulullahpun bersedih, air matanya tumpah. Karena beliau tahu pasti bahwa paman yang paling dicintainya kelak di akhirat akan dimasukkan ke dalam neraka. Doa-doapun dipanjatkan ke hadiratNya, agar paman tercinta diampuni dosa-dosanya. Namun Allah SWT tidak berkenan mengabulkannya, karena Abu Tholib meninggal dalam keadaan kafir, belum pernah berikrar syahadat SEKALIPUN!. Maka Rasulpun hanya bisa mohon keringanan hukuman untuk pamannya sebagaimana sabda Beliau “ Semoga syafaatku bermanfaat baginya pada hari kiamat nanti, sehingga dia diletakkan dineraka yang dangkal, hanya sebatas tumit saja”.
Sobat!
Seandainya Abu Thalib mau mengucapkan kalimat syahadat La Ilaha Illallah. Mungkin akan lain jadinya. Karena kalimah la ilah illallah merupakan kunci surga. syahadat adalah bekal yang harus kita bawa agar kita dapat membuka pintu-pintu surga.
Namun yang jadi pertanyaan, cukupkah kita hanya berucap la ilaha illallah?
Terkait dengan ini suatu ketika ada orang bertanya kepada Wahb bin Munabih “ Bukankah la ilaha illallah adalah kunci surga?
Beliau menjawab,” Benar, namun tidak ada satu kuncipun kecuali mempunyai gigi. Jika kamu menggunakan kunci yang bergigi, pintu akan terbuka, jika tidak maka tidak akan terbuka”
Sobat!
Yang dimaksud gigi tersebut adalah syarat-syarat yang harus kita penuhi agar syahadat kita, agar persaksian kita diterima Allah SWT dan bisa kita gunakan sebagai kunci untuk membuka pintu surga. Adapun syarat-syarat tersebut adalah :

1. Mengetahui makna yang dimaksudkan.
Syarat yang pertama kita harus tahu, faham akan makna kalimat syahadat yang kita ucapkan bahwa tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad SAW adalah utusan Allah. Bukankah Rasul pernah bersabda, “ Barangsiapa mati dan dia mengetahui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, ia masuk surga”. (HR.Muslim)

2. Yakin dan tidak ragu-ragu.
Barangsiapa yang berikrar syahadatain, faham maknanya dan dengan penuh keyakinan tanpa keraguan sedikitpun, maka baginya surga. Sebagaimana sabda Rasul SAW, “aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba yang bertemu Allah dengan kedua kalimat ini dan tidak ragu-ragu tentang keduanya, kecuali masuk surga”.

3. Menerima konsekuensi dari kedua kalimat tersebut.
Karena syahadat hakekatnya adalah merupakan pernyataan, ikrar, sumpah, janji dan monoloyalitas terhadap Allah dan Nabi Muhammad SAW, maka didalam hidup, kita harus patuh, tunduk dengan aturan-aturan Allah SWT.

4. Jujur, tidak dusta
Apa yang diucapkan harus benar-benar keluar dari hatinya. Jangan sampai kita mengikrarkan syahadat sementara didalam hati kita menyelisihinya. Itu munafik namanya, dan Allah SWT Maha Tahu terhadap apa yang tersembunyi di dalam relung-relung hati kita. maka barangsiapa berdusta, maka sesungguhnya dia telah mendustai dirinya sendiri.
.
5. Ikhlas
Ikhlas berasal dari kata Khalis yang artinya murni. Maka ikhlas berarti memurnikan segala amal perbuatan baik lesan maupun tindakan hanya semata-mata mengaharap ridho Allah SWT. Jadi bukan karena wanita yang dinikahinya, bukan karena harta, jabatan yang dinginkannya maupun karena si fulan dsb. Tapi semata-mata karena Allah SWT.


Sudahkah syahadat kita sesuai syarat-syarat tersebut diatas? Smoga Allah SWT senatiasa membimbing kita, agar kita termasuk orang-orang yang bersyahadat dengan benar. Amin! Wallahu a’lam.

Dheminto
http://gizinews.blogspot.com
http://untaianhikmah.blogspot.com


Selengkapnya...