Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 November 2008

SANG DIREKTUR (cerpen)

Rembulan limau retak tertancap ranting-ranting cemara. Sinarnya pucat pasi ditelan gulita malam. Bintang gemintangpun enggan bersinar, sembunyi dibalik cakrawala. Angin malam mendesau membawa temaram menggetarkan daun-daun jatuh ke pangkuan bumi. Di kejauhan anjing hutan menjerit ke langit membawa kabar tentang kegelisahan malam.
Jam telah berdentang 12 kali. Namun Harnowo masih terduduk diteras terbungkus resah. Wajahnya ditekuk, tangan kiri meijit-mijit jidat. Sesekali dia menghela napas panjang, seolah menghempaskan beban yang menyesakkan dada. Entah apa yang berkecamuk di hatinya.

Dia adalah anak bungsu kebanggaanku. Dari 5 bersaudara, dialah yang paling berhasil dalam kariernya. Sekarang ini dia adalah seorang Direktur suatu rumah sakit pemerintah. Karena kesibukannya, dia sangat jarang menengokku. Belum tentu setahun sekali dia menenggok aku, ibunya yang tinggal sebatang kara ini. Seperti biasa, kali ini dia datang sendiri dengan wajah kusut masai. Tanpa ditemani anak-anaknya. Apalagi istrinya yang juga seorang dokter itu. “ Sibuk !” itulah jawaban klasik yang selalu jadi alasan.
Dia masih membatu ketika aku datang menghampirinya. Ku duduk disebelahnya, sambil menyisir gelap malam penyimpan sejuta misteri.
“Harnowo!.. ada apa?”tanyaku penuh kelembutan.
“Ndak ada apa-apa kok bu”, jawabnya datar. Matanya terus menyusuri pekatnya malam. Entah mencari jawaban, ataukah sembunyi dari pertanyaanku barusan.
“Jangan bohong sama ibu! Ibu tahu kamu ada masalah”.
”Ndak kok bu ! Cuman lelah saja”.
”Lelah apa?”.
”Ya....lelah mikir pekerjaan bu..”.
”Ah..mosok”.
”Maklum bu !.. sebagai Direktur semua masalah bertumpu padaku. Mulai dari membuat perencanaan, pengaturan anggaran, proyek ini-itu, laporan-laporan, belum kalau ada pemeriksaan dari Irjen atau BPK. Belum lagi kalau ada komplain pasien gara-gara dokternya perawatnya mogok. Bahkan sampe WC mampet, genting bocor saja harus aku yang mikir. Aku lelah bu....sangat lelah”.
”Lho.... Kamu kan punya anak buah !? Ada wakil direktur. Ada kepala bagian, kepala seksi, kepala Instalasi, kepala unit dan masih banyak lainnya. Kamu tinggal nyuruh-nyuruh mereka to !”.
”Iya sih bu. Tapi................aku tidak percaya sama mereka. Mereka itu nggak becus kerjanya. Yang dipikir hanya bagaimana dapat untung. Kalau nggak gitu, yang dipikir ya cuma insentif, insentif dan insentif”.
”Ah ...mosok begitu. Lha kamu sendiri bagaimana?”
Harnowo hanya diam. Tapi kerisauan, kegelisan tampak jelas bergelayut dimatanya yang memandang jauh di kegelapan. Seakan ingin bersembunyi di kelamnya malam. Sementara kabut tipis mulai turun. Dinginnya mulai menembus jaket tebal yang kukenakan. Ya..jaket pemberiannya. Saat dia masih jadi dokter Puskesmas. Saat dia belum menikah dengan dokter Dian. Saat dia belum sesukses sekarang. Saat dia masih memperhatikan ibunya. Tidak seperti sekarang!
”Lelah bu, aku sangat lelah !! sangat !!. Rasanya ingin berhenti saja. Istirahat dirumah. Tapi gimana ...dirumah juga nggak ada siapa-siapa. Istri pergi terus, anak-anak juga nggak tahu kemana”.kata Harnowo datar sambil sesekali menarik napas dalam-dalam.
”Lho..lha istrimu kemana? Juga anak-anakmu, Eko, Dwi, dan Tri? Harusnya mereka dirumah to?”
”Entahlah Bu..”
”Kamu ini bagaimana to le?! Kamu ini kan kepala keluarga, mosok nggak tahu mereka kemana”.
”aku sibuk bu..”.
”sibuk ! terus keluarga nggak diurus gitu? Dosa itu namanya !!”
”Aku sibuk bu. Sebagai direktur pekerjaanku terlalu banyak. Apalagi stafku ndak bisa dipercaya”.
” Ah ..mosok !! jangan-jangan kamu saja yang tidak bisa mimpin. Jadi direktur kok sembarang dipikir sendiri. Harusnya bagi-bagi tugas to!!”
Harnowo hanya diam. Sambil menarik napas panjang, kembali dia memijit-mijit kening dan batang lehernya.
”Ya sudah,gimana kalau hal ini ibu sampaikan pada Pak De’mu yang jadi Dirjen?”.
”Maksud ibu?”
” Ya,..biar kamu tidak usah jadi Direktur saja !!”.
Harnowo tersentak ! kaget !
”Ibu gimana sih. Ya jangan !!!”.
”Kok jangan ?”
”Ya jangan. Tidak bisa begitu bu!”.
” Kok tidak bisa bagaimana?. Kan tinggal kamu diganti, atau mengundurkan diri beres to?. Dengan begitu kamu bisa lebih santai, longgar, bisa menikmati hidup, bisa sering kumpul membina keluarga, bisa sering-sering nengok ibu. Coba mana?! Berapa tahun sekali kamu nengok ibu ?. Apalagi istrimu itu. Juga anak-anakmu. Jangan-jangan... mereka tidak tahu, kalau punya nenek disini”.
”Ya ndak gitu bu”, gerutunya sambil mengambil sebatang rokok, menyulut dan menghisapnya dalam-dalam.
”Dokter kok ngrokok !!! katanya ndak baik buat kesehatan?”.
”Ah ibu... bawel amat sih!” jawabnya kesal sambil mematikan lagi rokoknya. Sementara malam terus bergulir. Membagi-bagi mimpi bagi mereka yang sudah terlelap.
”Sekarang bagaimana?”, tanyaku lagi
”Bagaimana, apanya bu?”.
” Yang tadi ! bagaimana kalau ibu bilang sama pak de’mu? Biar kamu tidak usah jadi Direktur saja”.
”Tidak bisa begitu bu !”.
”Tidak bisa bagaimana?”, kataku mulai jengkel.
Harnowo tetap diam dan membisu. Kembali dia memijit-mijit jidatnya.
”Tidak bisa bagaimana? Ditanya orang tua ndak njawab !!!”, bentakku sambil menahan emosi. Harnowo memandangku sebentar, kemudian menghela napas panjang.
” Bu...jadi direktur, memang semua pekerjaan, permasalahan mengalir ke mejaku. Mulai proyek gedung ini-itu, renovasi bangsal sampai saluran limbah. Dari operasi jantung sampai operasi kutil. Dari pengadaan CT scan sampai pengadaan obat. Belum penerimaan pegawai, aku yang harus nangani bu. Memang lelah, melelahkan ! Tapi sebenarnya dari situlah rejeki saya bu! Dari rekanan proyek, CV ini-itu, alat kesehatan, leveransir makanan, obat, reagen, dari pegawai baru. Makanya aku bisa bayar cicilan beberapa apartemen, mobil mewah, beli barang-barang antik. !”, jawabnya.
”Lho...itu kan ilegal, gratifikasi, kolusi, korupsi ! kalau ada pemeriksaan bagaimana?”.
”Ah itu kecil bu ! paling-paling yang mriksa Irjen. BPKP, BPK. Atau KPK sekalian. Toh mereka manusia juga. Kasih amplop beres bu !”.
“ O…..begitu ya”, jawabku datar. Entah mengapa ada kegetiran merayap ke sekujur tubuh. Awanpun mengambang dipelupuk mataku. Inikah anakku? Yang seorang Direktur kebanggaanku itu?
Kukuatkan hati. Kulempar kegetiran digelapnya malam dibalik senyum hambar yang kupaksakan.
“ Terus, yang membuat kamu resah apa?” tanyaku lagi
“E..e.. anu bu..” katanya dengan bimbang.
“anu apa?”
“E…e…anu bu ! aku dipromosikan jadi direktur rumah sakit Kelas A di Sumatera”.
“ ya bagus kan?”.
“ Tapi aku bingung bu. Kalau aku terima, nanti bagaimana dengan keluargaku. Dian istriku pasti ndak mau ninggalkan prakteknya. Belum anak-anak, kuliahnya bagaimana? Kalau istri dan anak-anak saya tinggal bagaimana jadinya? Sekarang saja rasanya sudah hampa. Istri ndak pernah ketemu, sibuk dengan kerjanya sendiri. Anak-anak juga gitu.”.
“Kalu gitu Ya ndak usah ngongso ! Nggak jadi direktur juga tidak apa-apa kan? katanya sudah lelah! Lebih baik kamu cari tempat yang nyantai saja. Biar nggak lelah, longgar, bisa kumpul membina keluarga, ngurus anak-anak. Biar keluarga tidak seperti kapal pecah begitu. Terus nanti juga dapat sering-sering nengok ibu”..
“La itu masalahnya bu. Kalau aku nggak jadi direktur, mukaku ditaruh dimana ? Masak mantan direktur terus jadi staf biasa? Malu kan bu! Belum masalah pendapatan. Kalau nggak jadi direktur untuk bayar mobil, apartemen, uang belanja istri, , kuliah anak-anak, untuk ini- itu dan sebagainya dari mana coba?””.
“Harnowo…! Kamu ini bagaimana sih? Uang itu bukan segala-galanya. Pikir istrimu. pikir anak-anakmu. Pokoknya Ibu tidak mau lagi dengar kabar kalau istri dan anak-anakmu jadi orang yang nggak bener ! ini semua gara-gara kamu yang nggak becus ngurus keluarga. Sudah tolak saja tawaran itu!”
”Tapi di rumah sakit besar proyeknya jauh lebih besar bu, pendapatannya juga lebih besar. Pasti uangnya, insentifnya juga jauh lebih besar. Sayang kalau nggak diterima. Apalagi kesempatan ini nggak mungkin akan datang dua kali bu”
“Astaghfirullah al’adzim harnowo… harnowo! Kenapa sih yang kamu pikir uang, uang dan uang melulu!”
“ Sekarang uang itu sangat penting bu. Dengan punya uang kita bisa melakukan apa saja!”.
Astaghfirullah!!!. Aku hanya bisa diam. Tak tahu harus bicara apa. Sementara malam yang kian renta, menyembunyikan rembulan pucat dibalik awan. Membuat malam semakin muram. Semuram hatiku, yang tak tahu jalan pikiran Harnowo, anak kebanggaanku.
”Oahhh................... dah ngantuk bu saya tidur dulu”, kata Hernowo sambil berdiri meninggalkan diriku. Kulihat jelas kerisauan masih bergelayut dihatinya. Kerisauan yang juga membuatku sedih. Resah gelisahpun menghujam, membangkitkan kecemasan yang menjulang. Sampai pagi menjelang aku masih terduduk terbalut resah. Apa....yang akan terjadi?
Pagi buta harnowo pamit kembali ke kota. Kulepas dia dengan setumpuk doa, smoga tak terjadi apa-apa. Tapi hatiku berkata lain. Aku sedih. Semakin sedih dan sendiri. Tak terasa bendungan air dimataku tumpah ruah membasahi pipiku. Kepedihan menikam jauh kedasar jantung hati. Seperti itukah anakku? Mengapa uang telah menjadi berhala yang dipertuhankan? Mengapa harta membutakan mata hatinya? Kemana hilangnya jiwa kesederhanaan? kejujuran? Ampuni hambamu ini ya Allah. Yang tidak mampu menjaga amanah Mu !

********************

Senja merah semburat dibatas cakrawala. Burung-burung pipit terbang meliuk rendah kembali ke sarangnya. Pulang kembali pada induknya. Dengan saudara-saudaranya. Betapa bahagianya mereka ! Sementara aku disini mati dalam sepi. Hanya Iyem pembantuku yang setia menemaniku. Membuatkanku teh dan pisang goreng sebagai teman menikmati senja merah, sambil berharap ada anakku yang pulang sore ini. Termasuk Harnowo.
” Nyonya, monggo koran sorenya Nyonya”, kata Iyem membuyarkan lamunanku.
”Ya, terima kasih yem”.
Ketika kubuka betapa terkejutnya aku, kulihat headline ”Seorang Direktur RS A kota B dengan inisial dr H ditangkap KPK dengan tuduhan korupsi.......”
”Oh.. Harnowo anakku!”.
Seketika semua menjadi gelap. Aku terpelanting ke kiri. Dan tak sadarkan diri..............

Dheminto
Konsultasi gizi gratis. http://gizinews.blogspot.com
http://untaianhikmah.blogspot.com



Selengkapnya...

Kamis, 23 Oktober 2008

KEMANA KUCARI KURNIAMU (cerpen)

Bintang gemintang tertimpa awan kelam. Membuat malam kian renta dan muram. Burung hantupun merintih, mengabarkan duka Sobirin yang dihujam gundah merobek jiwa. Gundah harus meninggalkan gubug reotnya, bila tak mampu bayar kontrakan. Gundah bagaimana dia harus berlebaran. Lebih gundah bila anak dan istrinya harus tidur berselimutkan kelaparan. Sementara angin malam yang mendesah membawa aroma busuk sisa pesta buka puasa pejabat tadi sore, menambah suasana kian mengiris-iris hati. Di beranda reot itu, Pak sobirin masih duduk diam dan membatu. Disandarkannya wajah penuh guratan duka pada bantalan keras kursi kayu. Tangan kanan memijit-mijit dahi. Beberapa kali ditariknya napas panjang, tuk sekedar mengibas segala resah. Pikirannya kembali melayang. Mengapa sudah sebulan ini dia keliling tak juga didapatkan jatah rejekinya? Dengan bermodalkan peralatan tukang seadanya, Sobirin keliling menawarkan jasa pembuatan taman. Entah sudah berapa perumahan disinggahi. Tapi tak satupun order diterimanya. Tak sepeserpun rupiah didapatinya. Sementara kebutuhan bertumpuk tumpang tindih bagai benang kusut, yang dia tak tahu bagaimana mengurainya. Kepalanya makin berdenyut. Mata nanar. Berkali-kali dinariknya napas panjang. Tak terasa butiran beningpun menetes dipipinya.

“Pak.............”, sapa Bu Sobirin memecah keheningan. Pak sobirin terperanjat. Dengan cepat dihapus air mata di kedua pipinya, serta membuang jauh kegelisahan pada kegelapan malam.
“Ada apa bu...?” jawab Pak Sobirin ditenang-tenangkannya.
“Beras kita sudah habis! Bagaimana?” kata bu sobirin memelas.
Diraihnya dompet dicelana. Dibuka. Yang ada hanya seribu perak.
Dengan bergetar Pak sobirin mengulurkan lembaran lusuh itu ke pangkuan Sumirah, istrinya, “Ini bu....tinggal seribu..!”.
Sumirah menerimanya dengan gemetar menahan amarah. Kegetiran terpancar jelas diwajah yang memerah. Mendungpun mengembang, dan Airmata tumpah ruah di kedua pipinya. Sumpah serapahpun berhamburan tak terbendung.
“Uang segini untuk apa Pak.....!!? Ini cuman dapat garam ! Apa anak istrimu suruh makan garam tok..mikir to mikir. Otak itu untuk mikir.!!?”. Sumirah berang.
“Sabar to bu........!”, kata Pak Sobirin menghibur istrinya.
“Sabar..Sabar! Kurang sabar apa aku pak !! Sudah saya bela-belain buruh kesana- kemari buat nyari makan. E..... bapak malah males-malesan ! laki-laki apa itu pak??! Sudah tahu mau lebaran, ndak punya beras, Hanun ndak punya baju, kontrakan habis belum bayar, e... bapak malah santai-santai saja ! mikir dong pak, mikir!!!” teriak Sumirah dengan wajah merah padam.
Pak Sobirin terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa diam, tertunduk dan kelu.
“Bagaimana pak?? !!!!”,.
Pak Sobirin menarik napas panjang. Matanya dipejamkan. Berusaha tegar dan sabar. Ditahannya air mata agar tak berlinang. Kemudian dipegang tangan istrinya yang berdebu, tuk coba memberi harapan ! Satu harapan. Yang tak lebih hanya fatamorgana yang bisa hilang ditelan gulitanya malam.
“Bu...! Kita harus yakin akan karunia Allah. Insyaallah besok kita akan dapat yang kita butuhkan. Besok kita berusaha. Sekarang mari, kita berdoa. Kita sholat tahajud ya bu!”.
“Berdoa.-berdoa!!! Memang kenyang dengan berdoa !!? Sudah lelah aku berdoa pak! Tapi mana?! Mana!!? Kita tetap kere pak! Sekarang yang penting usaha! Usaha pak! Ndak malah nglamun begitu !!”, teriak bu sobirin sambil membanting pintu sekeras-kerasnya. Pak sobirin hanya bisa diam dan mengelus dada.
Tak lama diambilnya sajadah usang. Ditumpahkannya kegundahan dalam sujud tahajud yang panjang. Bagai ngarai tak terbendung, semua biang gelisah resah dipanjatkan kepada Sang penguasa malam. Dia tak ingin lepas dari sujud. Bahkan hingga sahur menjelang.
Jam telah berdentang 3 kali. Pak Sobirin, Sumirah dan Hanun putri tercinta telah duduk dihamparan tikar lusuh untuk santap sahur. Hanun memandang ke tengah. Dilihatnya hanya ada nasi putih. Tak ada yang lain. Padahal kemarin Hanun telah mengajukan permintaan
“ Bapak..! Hanun pingiiiin banget sahur pake ayam goreng. Sekaliiii saja !! Besok pak ya!!”
“Ya.. Insyaallah”, jawabnya ketika itu.
“Janji lo pak”.
“Ya ! Insyaallah”.
Tapi malam ini, yang tersaji hanya nasi putih dan kecap. Hanya itu.
“Mak...! Lauknya mana!!?” kata Hanun
“Tanya tuh Bapakmu??!”, jawab Sumirah sewot
Karena tak mampu menerima tatapan memelas Hanun dan wajah garang istrinya pak Sobirinpun bangkit dan luruh dalam sujud yang berurai air mata.
Airmatapun makin tak terbendung, ketika dia ingat permintaan hanun minggu yang lalu.
“Bapak !! bajuku sobek...!!” kata Hanun merajuk
“Pakai yang lain dulu to sayang...!” jawab pak sobirin.
“Yang mana bapak...................? kan yang lainnya sudah robek-robek semua”.
“Ya.. nanti dijahit dulu !!”.
“Masak sobek begini dijahit !”, kata Hanun sambil menunjukkan sobek bajunya yang tak mungkin dijahit.
“ Ya sudah nanti ditambal”.
“Masak ditambal!!??!.... Lagian...... masak mau lebaran pake’ baju tambalan !! Kan malu......beli dong pak !!!”.
“Hanun............bapak belum punya uang!”.
“Bapak pasti gitu !!....nggak mau mbelikan baju Hanun kan!!....bapak jahat! Bapak jahat!!”. Katanya cemberut sambil lari masuk ke kamar. Hanunpun menangis dan marah !!!. Hingga seharian dia mengurung diri di kamar. Sementara Pak Sobirin hanya bisa mendesah. Tak tahu harus berbuat apa. Kontrakan rumahpun terlambat 3 bulan belum terbayar. Si empu rumah telah memberi tenggat, bila sampai lebaran belum terbayar maka mereka harus keluar. Keluar kemana?
****
Matahari tak henti mamanggang bumi yang kering dan lapuk. Debu dan pasirnya terhempas-hempas oleh angin kemarau yang panas. Siangpun makin panas menyengat. Sebagian orang akan memilih berteduh dalam rumah yang dingin dan sejuk. Tapi tidak bagi Sobirin. Meski tengah berpuasa, Dia harus tetap melangkah menantang matahari. Berkeliling dari rumah ke rumah, untuk mencari kurnia Illahi..
Mentari sudah tergelincir. Ketika Sobirin melepas penat dibawah pohon beringin ujung perumahan. Disekanya keringat asin dari wajah dan leher. Dari subuh dia berkeliling, namun yang didapat hanya lelah, lapar dan dahaga yang mencekik, mendera setitik asa yang tinggal tersisa. Hati makin pilu, ketika kembali terngiang cercaan istrinya semalam. Ketika teringat kembali putrinya tercinta. Bagai anak panah, doa-doapun dilepas sampai ke atap-atap langit.
“Ya Allah.......... mengapa nasib tak jua berpihak padaku? Harus kemanakah kucari karuniaMu?!.”, ratapnya.
“Adakah kau dengar wahai Sang Penguasa Langit?”.
“ Kalau sampai aku tidak mendapatkan apa-apa, apa yang harus kukatakan pada istriku Ya Allah? Bagaimana anakku, tempat tinggalku! Haruskah aku berlebaran diemperan toko sebagai gelandangan?”.
Ditangkupkannya kedua tangan diwajah, menutupi kepedihan yang tak terbendung.
Tak terasa azan dzuhurpun telah memanggil. Memecah kebekuan dan kepiluan yang membelenggu. Diseretnya langkah ke masjid terdekat, memenuhi panggilan Illahi Robbi. Sholat dzuhur ditunaikan dengan sepenuh hati. Bagai seorang diplomat ulung, dia bermunajat ke HadiratNYa. Disampaikan segala biang keresahan. Tentang hidupnya. Tentang anak dan istrinya. Tentang tempat berteduhnya. Tentang kemiskinan yang selama ini mendera. “Adakah keadilan untukku ya Robbi !! Bukankan selama ini aku hanya menyembahMu? Bukankah selama ini aku hanya mohon pertolongan ke hadiratMu? Bukankan Engkau telah berjanji akan mengabulkan doa yang dipanjatkan kehadiratmu. Kami telah melakukan itu Ya Allah. Kami sudah berusaha. Manakah janjiMu?!! Harus kemana lagi kucari karuniaMu?”
Setelah luruh dalam sujut panjang dengan derai air mata. Bagai dapat suntikan darah segar, dia bangkit dan lari mengejar matahari yang masih tersisa. Dengan mantap dilangkahkan kaki ke luar. Namun baru sampai seberang masjid, langkahnya terhenti. Didepannya tergeletak dompet tebal berwarna coklat. Seolah tersenyum memanggil, untuk merengkuhnya. Pak sobirin menengok kanan kiri. Tak ada siapa-siapa. Siapakah pemilik dompet ini? Tak ada siapa-siapa. Inikah jawaban doaku?
Dengan pelan dibuka. Dilihatnya lembaran-lembaran merah sebanyak 6 lembar berjajar rapi didalam dompet. Seakan memanggil untuk memungutnya. Tapi dia ragu. “ Ini bukan milikku ! Bukan !!”. Ditutup dan diletakkan kembali dompet itu.
Sesaat dia duduk termangu. Dia ingat butuh beras. Ingat bayar kontrakan. Ingat beli baju hanun, istri dan juga dirinya. Dan perlu uang untuk berlebaran.
“Bukankah untuk menyambung hidup aku butuh uang?. Bukankah aku kesana kemari untuk mencari uang? Bukankah ini jawaban dari doa-doa yang kupanjatkan?” kata hatinya. Kembali direngkuhnya dompet itu.
“Ingat !.........itu bukan milikmu. Tidak halal bagimu!. Apakah kamu akan menafkahi keluargamu dengan rezeki yang tidak halal?” kata hatinya yang lain.
“Itu barang temuan, halal bagimu. Apalagi kamu bener-bener butuh to? Ingat hanun! Ingat istrimu!” kata hatinya yang satu.
Maka diambilnya uang itu. Namun ketika dilihat KTP didalamnya, kembali bimbang dan ragu menyelimuti hatinya.
“Nah...itu ada KTPnya, berarti ada yang punya kan. Kamu wajib mengembalikannya! Dosa tahu!!”.
“Tapi............”.
“Ndak ada tapi-tapian! itu bukan milikmu. Pokoknya kamu harus mengembalikan kepada yang punya. Ingat puasamu!”.
“Yah....benar! Memang aku harus mengembalikan uang ini. Harus!” katanya mantap.
Tak lama sampailah dia pada rumah minimalis dengan cat abu-abu berpadu warna putih. Dengan keraguan diketuknya pintu rumah itu, keluarlah seorang laki-laki tinggi besar dengan kumis tebal
“ Ada apa !” katanya garang.
“Maaf pak! Apa benar ini rumah Bapak Anton?”
“Saya Anton. Ada apa ?”
“Maaf pak, tadi saya menemukan dompet ini di dekat masjid. Ini dompet bapak ?’
“Oh... jadi kamu yang nyuri ya!!”, bentak anton.
“Tidak pak! Sungguh saya hanya menemukannya didekat masjid !!” dengan gemetar Pak Sobirin menyerahkan dompet tersebut.
“Hah !!..tinggal 600 ribu!! Yang lainnya mana !! Kamu ambil ya?!!”.
“Tidak Pak ! sungguh!! Demi Allah”.
“Anton !! kalau dia nyuri nggak mungkin dia nganter kesini!” kata seorang kakek dari balik pintu.
“Tapi uang saya tadi 2 jutaan kek!!”.
“Ah ..mosok? Kalau orang ngambil pasti diambil semua. Masak disisakan. 600 ribu lagi. Kamu ingat-ingat dulu deh. Jangan sembarangan nuduh orang !!!”.
“Tapi kek............”.
Pak sobirin bergegas meninggalkan Pak Anton yang masih termangu. Meski Pak anton memanggil-mangil, dia terus melangkahkan kakinya.
“Boro-boro terimakasih !! Ee... malah dituduh mencuri. Nasib-nasib!” gerutunya.
Pak Sobirin terus melangkahkan kakinya. Dia berharap ada orang yang memberikan pekerjaan. Hanya itu yang diinginkan. Rezeki dari kucuran keringatnya. Bukan dari mencuri, apalagi meminta-minta. Na’udzubillahi min dzalika.
Hingga senja merah tinggal semburat di cakrawala. Sobirin tak jua menemukan rezekinya. Sementara angin gunung telah bertiup pelan mengantar burung-burung pulang. Mereka pulang dengan perut kenyang dan sedikit biji untuk anaknya disarang. Alangkah bahagianya mereka !!! Sementara Pak Sobirin hanya bisa mengelus dada. Sudah seharian dia berkeliling. Haruskan pulang dengan tangan hampa? Harus kemana lagi kucari karuniaMu?
“Mengapa burung saja dapat menjemput rezekinya, pulang dengan perut kenyang dan buah tangan untuk anaknya. Sedangkan aku................?”, pak Sobirin terguguk meratapi nasibnya. Dibiarkanya airmata berlinang membasahi pipinya.
“Tapi....aku harus pulang...!”.
Malam menjelang Pak sobirin baru sampai dirumah. Dipandanginya sesaat rumah yang tak lebih dari gubug reot itu. Memang tak pantas disebut rumah. Itupun bukan miliknya. Hanya ada temaram sinar lampu minyak terpancar didalamnya. Tak Terdengar suara apa-apa, hanun maupun istrinya. Keraguan menggelayut di hati pak sobirin.
“Haruskah aku masuk dan berkata pada istri dan anakku , Maafkan bapak ! hari ini bapak tidak mendapatkan apa-apa?.. Padahal mereka menunggu pulangku untuk memenuhi janjiku. Sudah makankah mereka? Sudah berbukakah mereka? Bagaimana dengan kontrakan? Bagaimana baju robek Hanun? Bagaimana harus berlebaran besok?”. Kembali berbagai masalah tumpang tindih menagih janji. Tak tahu dengan apa harus dipenuhi. Akhirnya pak sobirin hanya bisa terduduk kelu didepan pintu. Hatinya semakin teriris-iris ketika suara takbir memanggil-manggil dari masjid-masjid dan surau.
“Allahu Akbar Allahu Akbar! Sungguh Engkau Maha Besar ! Mengapa Engkau biarkan kami yang kecil ini? Mana janjiMu?”,keluhnya pada sang Pencipta dengan berurai air mata.
“Bapak !! ........ Bapak sudah pulang to ?. Kok nggak manggil hanun?! Mak..................! Bapak sudah pulang!”, kata Hanun. Melihat putri tercinta Pak sobirin bingung apa yang yang harus dikatakan padanya. Dia tambah bingung ketika tiba-tiba Sumirah muncul didepan pintu.
“Alhamdulillah bapak sudah pulang? Bapak sudah buka puasa?” tanya Sumirah. Pak Sobirin menggeleng. Kemudian Sumirah menggandengnya ke Meja makan. Pak sobirin heran, mengapa istrinya begitu baik? Kok ada makanan? Bahkan ada ayam goreng kesukaan Hanun, ada sayur lodeh kesukaannya. Ada buah. Ada kolak, ini darimana?
“I....i..ni darimana ?” tanya Pak sobirin tak percaya. Lebih tak percaya lagi ketika dilihat ternyata anak dan istrinya telah memakai baju yang bagus-bagus. Baju barukah?
“Ba....Bajumu.. dari mana? Mimpikah aku?”
“Lho...kan dari bapak to. Bapak kan yang ngirim !”, jawab Sumirah lembut, tidak seperti biasanya.
“Aku yang ngirim......?”.
“Bukan bapak, tapi orang suruhan bapak”.
“Orang suruhanku?”, tanya Pak sobirin makin tak mengerti.
Untuk sesaat mereka hanya saling berpandangan. Tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Tapi yang pasti bahwa Allah SWT tak pernah melupakan janjiNya. “Pasti!”. (dhemint)
http://untaianhikmah.blogspot.com
http://gizinews.blogspot.com
armint.rspaw@gmail.com
armint.rspaw@yahoo.co.id


Selengkapnya...